Pondok Pesantren Assa’adah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pendidikan bagi para santri. Dalam perjalanan pesantren, lingkungan kami juga pernah menjadi ruang pertemuan dan belajar bagi masyarakat yang ingin memperdalam pengetahuan keislaman melalui majelis taklim dan kajian kitab.
Salah satu jejak kegiatan tersebut tercatat dalam arsip Komunitas Muslim Muda (KOMMA) Bogor pada 2009. Arsip itu memuat jadwal kegiatan ta’lim dwimingguan dan halaqah tahsinul qira’ah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assa’adah, Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.
Dokumentasi tersebut menjadi salah satu catatan tentang aktivitas keilmuan yang pernah berlangsung di lingkungan pesantren kami.
Majelis Ta’lim Terbuka untuk Masyarakat
Dalam arsip kegiatan KOMMA, ta’lim dwimingguan tercatat sebagai kegiatan yang terbuka untuk umum. Materi pembelajarannya mencakup sejumlah bidang keilmuan Islam, dengan pembahasan kitab dan tema yang beragam.
Beberapa materi yang tercantum antara lain Maulid Barzanji, Tijanuddurori, Matan Taqrib, tafsir, hadis, tasawuf, serta pembahasan mengenai ritual Islam tradisional di Bogor.
Ragam materi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ta’lim tidak hanya diarahkan pada satu pembahasan. Peserta memiliki kesempatan untuk mengenal berbagai bidang ilmu keislaman melalui pembacaan dan pengkajian kitab.
Bagi kami, keberadaan majelis seperti ini merupakan bagian dari kehidupan pesantren yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat. Pesantren menjadi tempat belajar, sementara majelis taklim membuka ruang perjumpaan bagi siapa saja yang ingin menambah pengetahuan dan memperdalam pemahaman agama.
Halaqah Tahsinul Qira’ah
Selain ta’lim dwimingguan, arsip yang sama juga mencatat kegiatan Halaqah Tahsinul Qira’ah yang diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Kegiatan tersebut dijadwalkan setiap Jumat malam, pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Tahsinul qira’ah merupakan pembelajaran untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an, baik dari sisi pelafalan huruf maupun ketepatan membacanya.
Kehadiran halaqah ini melengkapi kegiatan pengkajian kitab dengan ruang belajar yang lebih khusus pada kemampuan membaca Al-Qur’an.
Kedua kegiatan tersebut menunjukkan adanya aktivitas pembelajaran yang menjangkau lebih luas daripada lingkungan internal pesantren. Ada ruang bagi masyarakat untuk hadir, belajar, dan mengikuti kegiatan keagamaan bersama.
Menjaga Jejak Kegiatan Keilmuan
Arsip tahun 2009 ini menjadi salah satu bahan penting bagi kami dalam menelusuri perjalanan kegiatan keilmuan di Pondok Pesantren Assa’adah.
Catatan jadwal kegiatan memang belum menggambarkan seluruh perjalanan majelis tersebut. Namun, keberadaannya memberikan informasi bahwa pada masa itu Assa’adah menjadi salah satu tempat berlangsungnya kegiatan ta’lim dan halaqah yang terbuka bagi masyarakat.
Kami memandang dokumentasi semacam ini perlu dirawat. Sejarah pesantren tidak hanya tersusun dari riwayat para pendiri dan pengasuh, tetapi juga dari kegiatan belajar, pertemuan, dan hubungan dengan masyarakat yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Melalui pengarsipan dan pengenalan kembali jejak kegiatan tersebut, kami berharap generasi berikutnya dapat mengenal lebih jauh perjalanan Pondok Pesantren Assa’adah, termasuk ikhtiar menjaga majelis keilmuan dan tradisi mengaji di tengah masyarakat.