Arsip

Durusul ‘Aqa’id Diniyyah: Mengenal Warisan Keilmuan Pondok Pesantren Assa’adah

Tradisi keilmuan di Pondok Pesantren Assa’adah KHM ‘Isa ‘Abbas tidak hanya tumbuh melalui kegiatan pengajian dan pembelajaran secara langsung. Salah satu jejaknya juga tersimpan dalam sebuah karya terjemahan berjudul Durusul ‘Aqa’id Diniyyah, yang berkaitan dengan perjalanan pendidikan Islam di lingkungan pesantren.

Kitab ini memiliki hubungan khusus dengan KH Muhammad ‘Isa ‘Abbas, pendiri Pondok Pesantren Assa’adah. Beliau menerjemahkan karya yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdurahman bin Saqaf, kemudian menerbitkannya melalui Pondok Pesantren As-Sa’adah, Ciomas, Bogor, pada tahun 1430 Hijriah.

Keberadaan kitab ini menjadi salah satu bagian dari khazanah keilmuan yang kami kenang dan dokumentasikan. Bukan hanya karena materi yang dibahas berkaitan dengan dasar-dasar akidah Islam, tetapi juga karena di dalamnya terdapat jejak ikhtiar seorang ulama dalam menghadirkan bahan pembelajaran yang dapat dipahami oleh para pelajar pesantren.


Mengenal Kitab Durusul ‘Aqa’id Diniyyah

Durusul ‘Aqa’id Diniyyah merupakan risalah pembelajaran dasar akidah Islam. Berdasarkan deskripsi bibliografis yang tersedia, karya ini merupakan tulisan Sayyid Abdurahman bin Saqaf yang kemudian diterjemahkan oleh KH Muhammad ‘Isa ‘Abbas.

Penerjemahan tersebut tercatat pada tahun 1430 H, dengan penerbit Pondok Pesantren As-Sa’adah, Ciomas, Bogor. Dengan demikian, peran KH Muhammad ‘Isa ‘Abbas dalam kitab ini adalah sebagai penerjemah, bukan pengarang asli.

Dalam tradisi pendidikan Islam, penerjemahan merupakan salah satu jalan untuk meneruskan pengetahuan. Sebuah karya dapat menjangkau lingkungan pembelajaran yang berbeda ketika isi dan istilah di dalamnya dihadirkan melalui bahasa yang lebih mudah dipahami oleh pembacanya.

Ikhtiar semacam ini memiliki arti penting dalam pendidikan pesantren. Pengetahuan tidak hanya diwariskan melalui pengajaran lisan, tetapi juga melalui bahan bacaan yang disusun agar dapat dipelajari secara bertahap.


Pembelajaran Akidah bagi Tingkat Dasar

Berdasarkan keterangan bibliografis, kitab ini ditujukan untuk murid tingkat Ibtidaiyah. Materinya mencakup pokok-pokok akidah, antara lain rukun iman, rukun Islam, serta pembahasan mengenai sifat-sifat Allah dan para nabi.

Penyajiannya menggunakan pola tanya jawab. Pendekatan ini membantu memperkenalkan suatu persoalan melalui pertanyaan, kemudian memberikan penjelasan sebagai jawaban. Bagi pembelajaran tingkat dasar, susunan semacam ini dapat membantu peserta didik mengenali pokok bahasan secara lebih teratur.

Pembelajaran akidah memiliki tempat mendasar dalam pendidikan Islam. Pemahaman tentang keimanan menjadi bagian dari pembentukan cara pandang seorang Muslim terhadap agama dan kehidupannya. Karena itu, materi dasar perlu disampaikan dengan bahasa yang jelas, bertahap, dan sesuai dengan kemampuan peserta didik.

Catatan koleksi menyebutkan bahwa Juz I kitab ini terdiri atas 18 halaman dan menggunakan bahasa Arab serta Indonesia, dengan penyajian aksara Arab dan Latin. Keterangan tersebut memberi gambaran mengenai bentuk bahan ajar yang pernah diterbitkan oleh Pondok Pesantren As-Sa’adah.


Jejak Penerbitan di Ciomas pada 1430 H

Penerbitan Durusul ‘Aqa’id Diniyyah oleh Pondok Pesantren As-Sa’adah pada tahun 1430 H menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan pendidikan pesantren.

Bagi kami, catatan ini penting karena memperlihatkan salah satu bentuk kegiatan keilmuan yang pernah dilakukan oleh pendiri pesantren. Di samping pengajaran yang berlangsung melalui majelis dan kegiatan belajar, penerjemahan serta penerbitan bahan pembelajaran merupakan upaya untuk menyediakan sumber pengetahuan bagi para pelajar.

Sebuah catatan penelitian yang dipublikasikan pada 2013 juga menyebutkan keberadaan salinan kitab ini di lingkungan Pondok Pesantren As-Sa’adah. Salinan yang diperiksa pada waktu itu berupa fotokopi. Informasi tersebut menjadi salah satu petunjuk mengenai keberadaan kitab dalam lingkungan pesantren pada periode tersebut.

Kami memandang dokumentasi semacam ini penting untuk terus dilengkapi. Halaman sampul, identitas penerjemah, isi kitab, dan keterangan penerbitan merupakan bagian yang perlu dijaga agar generasi berikutnya dapat mengenali peninggalan keilmuan pesantren dengan lebih baik.


Merawat Khazanah Keilmuan Pesantren

Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk mengenali dan merawat warisan yang diterimanya. Dalam kehidupan pesantren, warisan itu tidak hanya berupa bangunan atau catatan pendirian, tetapi juga tradisi belajar, bahan pengajaran, karya tulis, dan ikhtiar para ulama dalam meneruskan ilmu.

Durusul ‘Aqa’id Diniyyah merupakan salah satu bagian dari khazanah tersebut di Pondok Pesantren Assa’adah. Melalui penerjemahan yang dilakukan KH Muhammad ‘Isa ‘Abbas, kita dapat mengenali salah satu bentuk perhatian beliau terhadap penyampaian dasar-dasar ilmu akidah kepada para pelajar.

Dokumentasi kitab ini menjadi bagian dari usaha kami untuk memperkenalkan perjalanan keilmuan Assa’adah kepada masyarakat luas. Dengan mengenali peninggalan para pendahulu, kita memiliki pijakan yang lebih baik untuk memahami sejarah pesantren dan menjaga kesinambungan tradisi pendidikan Islam dari generasi ke generasi.