Habib Idrus: Ummat Islam Banyak Dikhianati
Habib Idrus: Ummat Islam Banyak Dikhianati
Habib Idrus bin Hasyim Alatas

Habib Idrus: Ummat Islam Banyak Dikhianati

Sejarah mengajarkan kita menjadi lebih dewasa. Dari sejarahlah kita dapat mendapatkan berbagai episode-episode pengalaman dan hikmah yang bisa dipetik.

Dan kali ini, penulis merasa beruntung dapat berbincang dan bercengkrama langsung dengan Sayyidil Walid Habib Idrus bin Hasyim Alatas, selaku Ketua Pembina Yayasan Assaadah Poltangan. Sebagai orangtua tentu banyak pelajaran yang bisa dijadikan keteladanan.

Obrolan kami semula datar dan santai-santai saja, pembuka obrolan pada umumnya membincangkan peristiwa keseharian. Namun di tengah waktu obrolan mendadak mengalir penuh semangat tatkala Habib Idrus banyak berkisah saat beliau tumbuh remaja di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat.


Suasana Masjid Jami Al Riyadh Kwitang (1940)

Sorot matanya tegas memberi penekanan kata-kata yang mengalir. Seolah menyiratkan jejak gelora masa mudanya, di tengah pergolakan revolusi yang beliau alami terutama agresi Belanda ke-2 saat itu.
Kawasan Kwitang yang menjadi kantung pergerakan bahkan pusat perlawanan ummat Islam saat itu, dikupas perlahan oleh beliau. Sosok Al Maghfurlah Al Walid Al Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang begitu saja mengalir menjadi sentral obrolan.

Mulai dari bagaimana Habib Ali Kwitang membangun spirit perlawanan bersama majelisnya, sampai peran krusial Habib Ali dalam proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau juga bertutur bagaimana dahulu Bung Karno sering meminta nasihat-nasihat penting kepada Habib Ali Kwitang.

Kantung-kantung perlawanan lain yang disorot Habib Idrus adalah keberadaan Masjid Al Makmur di Tanah Abang yang letaknya berada di pusat pemerintahan Batavia (kala itu disebut kawasan Weltevreden). Tak ayal jamaah Masjid Al Makmur yang terdiri dari para habaib dan ulama-ulama mendapat tekanan luar biasa saat itu. Konfrontasi dengan tentara Belanda tak dapat dielakan dan seringkali terjadi.


Para Habaib dan Ulama berfoto bersama di pelataran Masjid Jami Al Makmur (1925)

Cerita yang sejak awal nyaris tanpa jeda, mendadak hening. Saya melihat Habib Idrus menunduk.  Dan saya yang sejak awal hanya menjadi pendengar setia,  hanya bisa mengamati beliau yang berusaha keras membangun kembali frame demi frame ingatan beliau segala keadaan saat itu.

"Sayang itu yang banyak dilupakan orang!"
"Sayang itu yang banyak ditutup-tutupin orang!"

Saya terhenyak saat dua kalimat di atas tiba-tiba meluncur keras. Habib Idrus pun memberi alasan mengapa hal itu terjadi yang kondisinya tak jauh berbeda dengan sekarang, "Ummat Islam banyak dikhianati sejak dulu!" tegas Habib Idrus.
Menurutnya kondisi tersebut terus berlangsung hingga kini, seolah mengulang sejarah.


Habib Idrus saat bersama Habib Rizieq.

Di ujung obrolan, Habib Idrus lebih banyak menceritakan sosok Imam Besar ummat Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab. Dilatarbelakangi kedekatannya, Habib Idrus juga tak kalah semangatnya menceritakan sepak terjang Habib Rizieq. Menurutnya, Habib Rizieq adalah sosok pejuang, representasi ulama yang dibutuhkan di tengah ummat saat ini.

"Ummat Islam akan tetap terus berjuang. Bila dahulu ada Habib Ali Kwitang sebagai ulama, ada Kartosuwiryo yang nasionalis, sekarang kita punya Habib Rizieq. Doain beliau istiqomah dan tetep lurus !" Tutup Habib Idrus sembari pamit pada saya karena hendak istirahat,  setelah obrolan yang tak terasa satu jam mungkin lebih. (RG)



Komentar